Tsunami
Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu =
pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan")
adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut
secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa
disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi
bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang
tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang
tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam,
gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara
dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya
sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang
sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang
tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah
meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk
hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang
terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material
yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.
geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".
Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter di atas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.
Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.
Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam
Kata tsunami berasal dari bahasa jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Tsunami sering terjadi Jepang. Sejarah Jepang mencatat setidaknya 196 tsunami telah terjadi.
Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang pasang. Dalam tahun-tahun terakhir, persepsi ini telah dinyatakan tidak sesuai lagi, terutama dalam komunitas peneliti, karena gelombang pasang tidak ada hubungannya dengan tsunami. Persepsi ini dahulu populer karena penampakan tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang tinggi.
Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air yang bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan gelombang jauh lebih besar dan lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang pasang yang sangat tinggi. Meskipun pengartian yang menyamakan dengan "pasang-surut" meliputi "kemiripan" atau "memiliki kesamaan karakter" dengan gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi tepat. Tsunami tidak hanya terbatas pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis sangat tidak merekomendasikan untuk menggunakan istilah ini.
Hanya ada beberapa bahasa lokal yang memiliki arti yang sama dengan gelombang merusak ini. Aazhi Peralai dalam Bahasa Tamil, ië beuna atau alôn buluëk (menurut dialek) dalam Bahasa Aceh adalah contohnya. Sebagai catatan, dalam bahasa Tagalog versi Austronesia, bahasa utama di Filipina, alon berarti "gelombang". Di Pulau Simeulue, daerah pesisir barat Sumatra, Indonesia, dalam Bahasa Defayan, smong berarti tsunami. Sementara dalam Bahasa Sigulai, emong berarti tsunami.
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Gempa yang menyebabkan tsunami:
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.
geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".
Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter di atas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.
Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.
Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam
Kata tsunami berasal dari bahasa jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Tsunami sering terjadi Jepang. Sejarah Jepang mencatat setidaknya 196 tsunami telah terjadi.
Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang pasang. Dalam tahun-tahun terakhir, persepsi ini telah dinyatakan tidak sesuai lagi, terutama dalam komunitas peneliti, karena gelombang pasang tidak ada hubungannya dengan tsunami. Persepsi ini dahulu populer karena penampakan tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang tinggi.
Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air yang bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan gelombang jauh lebih besar dan lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang pasang yang sangat tinggi. Meskipun pengartian yang menyamakan dengan "pasang-surut" meliputi "kemiripan" atau "memiliki kesamaan karakter" dengan gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi tepat. Tsunami tidak hanya terbatas pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis sangat tidak merekomendasikan untuk menggunakan istilah ini.
Hanya ada beberapa bahasa lokal yang memiliki arti yang sama dengan gelombang merusak ini. Aazhi Peralai dalam Bahasa Tamil, ië beuna atau alôn buluëk (menurut dialek) dalam Bahasa Aceh adalah contohnya. Sebagai catatan, dalam bahasa Tagalog versi Austronesia, bahasa utama di Filipina, alon berarti "gelombang". Di Pulau Simeulue, daerah pesisir barat Sumatra, Indonesia, dalam Bahasa Defayan, smong berarti tsunami. Sementara dalam Bahasa Sigulai, emong berarti tsunami.
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Gempa yang menyebabkan tsunami:
1.
Gempa
bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km)
2.
Gempa
bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
3.
Gempa
bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun
Banjir
Banjir ialah bencana alam yang sering
terjadi di banyak kota dalam skala yang berbeda dimana air dengan jumlah yang
berlebih berada di daratan yang biasanya kering. Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pengertian banjir adalah berair banyak dan juga deras, kadang-kadang meluap.
Hal itu dapat terjadi sebab jumlah air yang ada di danau, sungai, ataupun
daerah aliran air lainnya yang melebihi kapasitas normal akibat adanya
akumulasi air hujan atau pemampatan sehingga menjadi meluber.
Di mata masyarakat, pada umumnya pengertian banjir merupakan hal yang negatif. Hal ini karena banjir selalu berkaitan dengan hal-hal yang merugikan sehingga dapat disebut juga bencana alam. Banjir dapat menyebabkan kerusakan parah, khususnya pada daerah yang padat penduduk yang berada di bantaran sungai atau daerah-daerah yang terkena banjir periodik.
Di mata masyarakat, pada umumnya pengertian banjir merupakan hal yang negatif. Hal ini karena banjir selalu berkaitan dengan hal-hal yang merugikan sehingga dapat disebut juga bencana alam. Banjir dapat menyebabkan kerusakan parah, khususnya pada daerah yang padat penduduk yang berada di bantaran sungai atau daerah-daerah yang terkena banjir periodik.
Pengertian banjir merupakan suatu peristiwa yang terjadi saat
aliran air yang berlebihan merendam suatu daratan. Meski kerusakan yang dapat
akibatkan bencana banjir dapat dihindari dengan cara pindah menjauh dari danau,
sungai, atau aliran air lainnya, orang-orang akan tetap menetap serta bekerja
dekat daerah-daerah aliran air tersebut guna mencari nafkah dan juga
memanfaatkan biaya murah. Manusia masih terus menetap di wilayah yang rawan banjir tersebut merupakan sebuah bukti bahwa nilai menetap di
wilayah yang rawan banjir lebih besar dibandingkan dengan biaya kerusakan
akibat bencara banjir periodik. Untuk lebih lengkapnya, berikut macam-macam
banjir.
Cara mengatasi banjir :
Cara mengatasi banjir :
1) Menata daerah
aliran-aliran air seperti sungai, danau, dan lain sebagainya sesuai dengan
fungsinya.
2) Tidak membuang sampah sembarangan ke danau, sungai, selokan.
3) Tidak membangun rumah ataupun bangunan dibantaran sungai.
4) Lakukan pengerukan sungai.
5) Perlu dilakukan reboisasi atau penghijauan hutan.
6) Sistem pemantau dan peringatan apabila terjadi bencana harus dibangun di daerah yang rawan banjir.
2) Tidak membuang sampah sembarangan ke danau, sungai, selokan.
3) Tidak membangun rumah ataupun bangunan dibantaran sungai.
4) Lakukan pengerukan sungai.
5) Perlu dilakukan reboisasi atau penghijauan hutan.
6) Sistem pemantau dan peringatan apabila terjadi bencana harus dibangun di daerah yang rawan banjir.
Gempa Bumi
Gempa bumi adalah suatu peristiwa yang sudah tidak
asing lagi di telinga kita. Apa itu sebenarnya gempa bumi? Gempa bumi adalah
peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara
tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan
lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan tersebut kemudian dipancarkan
kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan
sampai ke permukaan bumi.
Suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai gempa bumi ketika peristiwa tersebut memenuhi beberapa karakteristik gempa bumi seperti berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan bencana dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian di suatu lokasi kejadian. Lalu, peristiwa tersebut berpotensi untuk terulang lagi di sekitar daerah lokasi dan hingga kini masih belum dapat diprediksi. Gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Terdapat 4 Parameter Gempabumi yaitu waktu terjadinya gempabumi (Origin Time - OT), lokasi pusat gempabumi (Episenter), kedalaman pusat gempabumi (Depth), dan Kekuatan Gempabumi (Magnitudo)
Permukaan bumi terbagi menjadi beberapa lempeng tektonik yang berupa segmen keras dan mengapung diatas astenosfer. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku.. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia, tetapi terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.
Suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai gempa bumi ketika peristiwa tersebut memenuhi beberapa karakteristik gempa bumi seperti berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan bencana dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian di suatu lokasi kejadian. Lalu, peristiwa tersebut berpotensi untuk terulang lagi di sekitar daerah lokasi dan hingga kini masih belum dapat diprediksi. Gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Terdapat 4 Parameter Gempabumi yaitu waktu terjadinya gempabumi (Origin Time - OT), lokasi pusat gempabumi (Episenter), kedalaman pusat gempabumi (Depth), dan Kekuatan Gempabumi (Magnitudo)
Permukaan bumi terbagi menjadi beberapa lempeng tektonik yang berupa segmen keras dan mengapung diatas astenosfer. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku.. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia, tetapi terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.
Gunung
Meletus

Gunung Berapi secara umum didefinisikan sebagai sebuah
sistem saluran fluida yang terdiri atas batuan cair bersuhu tinggi yang
memiliki struktur memanjang dari kedalaman lapisan atmosfer kurang lebih 10 km
hingga permukaan bumi. Gunung berapi juga memiliki kumpulan endapan material
yang keluar saat terjadinya letusan. Material tersebut meliputi abu dan batuan
dengan berbagai ukuran.
Kondisi gunung berapi
Selama masa hidupnya, gunung berapi memiliki kondisi
atau keadaan yang terus berubah dari waktu ke waktu, terkadang masuk kondisi
tidur yang mana suatu gunung berapi namun tidak menunjukan aktivitas sama
sekali selama puluhan hingga ratusan tahun. Namun di satu kondisi gunung akan
kembali aktif dan meletus dengan dahsyat seperti yang terjadi pada gunung
Sinabung, Sumatera Utara yang terakhir kali meletus pada tahun 1600an dan pada
tahun 2010 kembali aktif serta akhirnya meletus pada tahun 2013 hingga sekarang
aktivitas letusan-nya masih berlangsung. Sementara itu untuk letusan gunung
berapi merupakan suatu aktivitas vulkanik yang sering disebut dengan istilah
erupsi. Bisa dikatakan hampir semua aktivitas letusan gunung berapi selalu
berkaitan dengan zona kegempaan aktif, hal ini terjadi akibat hubungan antar
batas lempeng yang memiliki tekanan yang sangat tinggi dan bersuhu lebih dari
1000 derajat Celcius sehingga dapat melelehkan material bebatuan di sekitarnya
dan menjadi Magma.
Magma terkumpul di dapur magma yang terletak dibawah
gunung berapi, ketika dapur magma sudah penuh, maka magma akan terdorong keluar
dari gunung berapi. Magma yang sudah keluar ini disebut dengan Lava yang
memiliki suhu 700 hingga 1200 derajat Celcius. Ketika meletus, sebuah gunung
berapi dapat melontarkan berbagai material hingga puluhan kilometer jauhnya,
tidak hanya itu, awan panas dan gas beracun juga kerap kali menjadi ancaman
serius bagi penduduk yang bertempat tinggal tak jauh dari letusan. Letusan
gunung berapi merupakan salah satu
bencana alam yang banyak menimbulkan berbagai kerusakan dengan total kerugian
yang besar karena menghancurkan areal pemukiman dan pertanian penduduk, belum
lagi dampak lainnya seperti pencemaran udara oleh gas beracum serta memicu
penyebab banjir lahar dingin yang dapat merusak infrastruktur umum.
Berikut adalah penjelasan mengenai penyebab gunung
meletus :
1. Peningkatan Kegempaan Vulkanik
Yang ditandai dengan terjadi aktivitas yang tidak biasa
pada gunung berapi, misalnya frekuensi gempa bumi meningkat yang mana dalam
sehari bisa terjadi puluhan kali gempa tremor yang tercatat di alat Seismograf.
Selain itu terjadi peningkatan aktivitas Seismik dan kejadian vulkanis lainnya
hal ini disebabkan oleh pergerakan magma, hidrotermal yang berlangsung di dalam
perut bumi.
Jika tanda tanda seperti diatas muncul dan terus berlangsung
dalam beberapa waktu yang telah ditentukan maka status gunung berapi dapat
ditingkatkan menjadi level waspada. Pada level ini harus dilakukan penyuluhan
kepada masyarakat sekitar, melakukan penilaian bahaya dan potensi untuk naik ke
level selanjutnya dan kembali mengecek sarana serta pelaksanaan shift
pemantauan yang harus terus dilakukan.
2. Suhu Kawah Meningkat Secara Signifikan
Sebagai tanda bahwa magma telah naik dan mencapai
lapisan kawah paling bawah sehingga secara langsung akan mempengaruhi suhu
kawah secara keseluruhan. Pada gunung dengan status normal, volume magma tidak
terlalu banyak terkumpul di daerah kawah sehingga menyebabkan suhu di sekitar
normal.
Naiknya magma tersebut bisa disebabkan oleh pergerakan
tektonik pada lapisan bumi dibawah gunung seperti gerakan lempeng sehingga
meningkatkan tekanan pada dapur magma dan pada akhirnya membuat magma terdorong
ke atas hingga berada tepat dibawah kawah. Pada kondisi seperti ini, banyak
hewan hewan di sekitar gunung bermigrasi dan terlihat gelisah. Selain itu
meningkatnya suhu kawah juga membuat air tanah di sekitar gunung menjadi
kering.
3. Terjadinya Deformasi Badan Gunung
Hal ini disebabkan oleh peningkatan gelombang magnet
dan listrik sehingga menyebabkan perubahan struktur lapisan batuan gunung yang
dapat mempengaruhi bagian dalam sepeti dapur magma yang volume-nya mengecil
atau bisa juga saluran yang menghubungkan kawah dengan dapur magma menjadi
tersumbat akibat deformasi batuan penyusun gunung.
4. Lempeng lempeng Bumi Yang Saling Berdesakan
Hal ini menyebabkan tekanan besar menekan dan mendorong
permukaan bumi sehingga menimbulkan berbagai gejala tektonik, vulkanik dan
meningkatkan aktivitas geologi gunung. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
bahwa lempeng merupakan bagian dari kerak bumi yang terus bergerak setiap saat,
dan daerah pengunungan merupakan zona dimana kedua lempeng saling bertemu,
desakan lempeng bisa juga menjadi penyebab perubahan struktur dalam gunung
berapi.
5. Akibat Tekanan Yang Sangat Tinggi
Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan pada point
sebelumnya mendorong cairan magma untuk bergerak ke atas masuk ke saluran kawah
dan keluar. Jika sepanjang perjalanan magma menyusuri saluran kawah terdapat
sumbatan, bisa menimbulkan ledakan yang dikenal dengan letusan gunung berapi.
Semakin besar tekanan dan volume magma-nya maka semakin kuat ledakan yang akan
terjadi.



Komentar
Posting Komentar